Coretan Putih diatas Hitam...

Welcome to my site.


Selasa, 31 Mei 2011

20 tahun kurang 5 hari


Pagi tadi, sebenarnya harus berjuang karena telah berhasil begadang dengan beberapa orang teman di rumah. Walau begitu, tetap saja lemas badan ini semua, tepat pukul setengah 8 harus hadir di SMA Don Bosco. Hanya satu tujuan, yaitu mengawas para pengawas ujian nasional masuk perguruan tinggi negri. Tapi, bukan itu yang menjadi tujuan tulisan ini, hari ini tepat tanggal 1 Juni, berarti 5 hari lagi genap sudah usia ku 20 tahun. Apa yang telah terjadi harus menjadi pelajaran dan bahan pertimbangan untuk kedepannya. Semoga saja tahun ini menjadi tahun yang baik dari tahun-tahun sebelumnya. (Tinta Putih)

Sabtu, 28 Mei 2011

Romansa Kapal Feri Selat Sunda

Lampung – Suasana yang selalu ramai, penuh dengan segala macam bentuk kendaraan, baik kecil, sedang maupun ukuran yang paling besar ada disini. Ya, disinilah tempat beradunya kapal-kapal yang telah dan akan menyeberangkan kendaraan tersebut.
Kendati demikian, rutinitas yang padat selalu diisi dengan hal-hal yang menyenangkan.

Walaupun perjalanan menuju ibu kota Jakarta melalui darat “terputus” karena adanya selat Sunda, tapi disinilah letak salah satu kesenangan yang ada.
Perjalanan yang meletihkan dapat terbayar sudah dengan suasana yang disuguhkan oleh pelabuhan yang rasanya jarang, bahkan tidak pernah kita rasakan ketika mendatangi pelabuhan teluk bayur. Disini pelabuhan terbagi dua, pelabuhan barang dan pelabuhan khusus kendaraan.
Mula-mula kalau berawal dari pulau Sumatera, yang pastinya kita akan disuguhkan oleh nuansa pelabuhan dari atas. Bagaimana tidak, jalanan yang menuju pelabuhan tujuan dihadang oleh pelabuhan pertama, walaupun tidak bisa melihat dari dekat, tapi sudah terlihat jelas peti-peti kemas dibawah sana.
Sungguh luar biasa sibuknya disana. Sebagai pengendara, kita mesti hati-hati ketika melintas jalanan tersebut, mobil-mobil dengan roda yang tidak kurang dari 18 itu selalu melintas dengan peti-peti yang ditarik dengan container besar. Cukup bervariasi, ada yang berisi mobil, motor, ada juga berisikan barang pangan. Kebanyakan adalah kendaraan yang baru saja dipesan dari beberapa provinsi di pulau Sumatera.
Rasanya tidak cukup dua jam perjalanan untuk menikmati, kalau saja punya waktu banyak, sudah tentu ingin rasanya melihat lebih dekat, bagaimana sibuknya para pebisnis disana, mereka bertransaksi dan saling bernegosiasi dengan beberapa serikat buruh bongkar muat pelabuhan.
Awalnya, kalau mengendarai mobil tepat didepan salah satu Universitas tenama disana, butuh waktu dua setengah jam, dengan syarat tidak macet atau tidak ada yang sedang melakukan perbaikan jalan. Kalaupun ada, hanya memakan waktu tiga sampai empat jam menuju pelabuhan penyeberangan yang dituju.
Jalanan yang berkelok-kelok juga menambah semaraknya perjalanan menuju ibu kota. Selat Sunda yang akan menjadi actor utama dalam perjalanan telah tampak. Diperempatan jalan yang jika lurus akan langsung membawa kita ke pelabuhan penyeberangan.
Cukup jauh juga ternyata. Padahal tadi terlihat cukup dekat, mungkin dikarenakan kita berada ditempat yang tinggi dan semua terlihat sangat dekat. Cukup memakan waktu setengah jam saja, kita sudah sampai di gerbang pelabuhan penyeberangan. Ramai sekali, terlihat antrian yang padat lancar. Hal ini dikarenakan kita diharuskan membayar tiket penyeberangan. Urusan harga tiket penyeberangan tidak terlalu mahal, sepeda motor dikenakan biaya Rp. 28.000, sedangkan mobil sedan dan sejenis Avanza dikenakan biaya tiket sebesar Rp. 198.000. Harga tiket tersebut hanya untuk satu kali penyeberangan.
Yang menariknya adalah betapa santunya para penjaga loket penjualan tiket. Sungguh jarang dirasakan dikota asal kita, Padang.
Setelah membayar kita juga langsung diarahkan kesalah satu dermaga yang telah ditentukan, belum banyak mobil yang menanti naik keatas kapal. Proses naiknya kekapal juga sangat bersistem, diatas kapal, mobil-mobil yang dari Merak keluar satu persatu, tergantung jenis kapal yang ditumpangi. Jika kapal yang memliki parkiran mobil dua lantai, berarti mobil yang parkir paling ujung dilantai dua harus menjadi yang paling terakhir untuk keluar, sehingga yang terakhir masuk adalah yang pertama keluar.
Menarik saja jika diperhatikan. Saling memberikan kontribusinya, petugas saling bekerja sama. Sehingga sudah waktunya untuk kami menaiki kapal penyeberangan. Diatas kapal, setelah mobil terparkir, kita juga bisa bebas berkeliaran diatas kapal dengan bebas bersyarat, hati-hati. “Sistem pengaturan memang harus tepat, sedikit saja cacat, berarti musibah bagi kami, macet yang parah menganggu penyebrangan nantinya.” Tutur salah seorang petugas.
Diatas kapal, para awak kapal juga menyediakan makanan dan minuman untuk diperjual belikan kepada penumpang kapal. Sedikit tips, lebih baik dihindari berbelanja diatas kapal, karena harga yang dipatok terlalu jauh mahal disaat semua harga naik. Alangkah lebih baiknya belanja saja dulu sebelum memasuki pelabuhan, disepanjang jalan sebelum pelabuhan, telah banyak mini market yang berjualan.
Cuaca yang cerah menambah indahnya pemandangan selat sunda. Pemandangan anak Krakatau diujung sana, dan pemandangan pelabuhan yang tertinggal dibelakang menyemarakan hari disetiap waktu diantara Sumatera dan Jawa, Selat Sunda.
Birunya laut Selat Sunda menambah raungan hati yang jauh dari perantauan. Irama music yang khas terdengar setelah memasuki ruangan ber-AC kapal, sayangnya tidak semua kapal yang memiliki fasilitas seperti ini. Kapal-kapal yang beroperasi disini juga bisa dihitung saja, sementara lonjakan penyebrang semakin padat. Macet adalah salah satu bukti bahwa lonjakan yang terjadi.
Deru mesin dan tawa renyah dari beberapa penumpang yang bercanda, berbagai suku dan ragam bahasa yang dapat didengar disini. Jarang sekali kita mendengar orang-orang bercanda satu sama lain dengan logat bahasa yang berbeda. Tapi disini dapat kita jumpai, menaiki kapal Feri sebagai alternative penyeberangan adalah pilihan untuk berinteraksi dengan orang-orang sekitar.
“biasanya kalau cerah, ada gerombolan lumba-lumba yang berkejaran ditengah-tengah selat nanti.” Ujar salah seorang penumpang kapal. Boleh dikatakan bahwa dia sudah hampir pernah mencobakan semua kapal penyeberangan diselat ini. Sehari saja bisa dua kali ia menaiki kapal.







BACA : BERITA HOT
Eksotika yang hadir diselat sunda. Semilir angin yang menyapu wajah, membuat tidak terasa telah meninggalkan pelabuhan terlalu jauh. Ternyata, tidak hanya mobil yang punya jalur jalan, kapal juga ada, tapi ketika penyeberangan tersebut, kapal yang menuju pulau Jawa berada pada jalur kiri, ketika telah hampir sampai di pelabuhan Merak, kapal yang kami tumpangi berada disebelah kanan. Entah kenapa dan bagaimana system jalur yang dipakai. Yang pasti belum ada terdengar kapal yang kecelakaan karena bertabrakan dengan kapal lain ketika sedang melaju. (Tinta Putih)



Kamis, 26 Mei 2011

Saat Kenyataan Tak Sesuai Impian

Semua orang pasti punya banyak impian dan tidak semua impian yang akan terwujud. Lalu, apa yang harus kita lakukan disaan kenyataan tidak sesuai dengan impian kita semua?
Banyak orang yang merasa frustasi karena kenyataan mereka tidak sesuai dengan impian. Sebagai contoh, ada seorang calon mahasiswa yang ingin kuliah di Universitas A, tapi nyatanya biaya tidak mencukupi. Atau, merantau ke kota besar, bermimpi ingin mendapatkan pekerjaan berkelas nasional bahkan internasional, tapi nyatanya yang didapatkan hanyalah
pekerjaan biasa-biasa saja dan apa adanya, bahkan lebih rendah dari perkiraan awal.
Ada juga seorang pengusaha, yang mungkin mengharapkan kenaikan laba 10 kali lipat, malah mengalami kebangkrutan. Apa yang kita harapkan, kadang memang tidak sesuai dengan kenyataan. Lalu apa yang harus kita lakukan?

Berikut adalah 3 langkah atau tips yang bisa dilakukan saat mimpi dan impian tidak sesuai lagi dengan kenyataan yang kita dapat:
1. Bertindaklah selalu secara fleksibel dan dinamis
Jika kita betul-betul ingin menggapai kesuksesan, maka diperlukan “kesiapan” untuk bisa bertindak secara fleksible dan dinamis terhadap setiap perubahan yang terjadi. Sekarang, kita akan buat sebuah analogi sederhana...

Saat ada badai tornado atau angin topan yang sangat besar, tidak jarang kita melihat pohon yang memiliki batang yang sangat besar pun tumbang! Lantas kenapa? Apa penyebabnya?
Sebab mereka tidak kuat menahan beban yang diterima. Namun coba lihat bambu, karena batangnya yang lentur, maka bambu bisa fleksibel bergerak ke segala arah, dan jarang tumbang.

Nah, begitu pun dengan kita! Jika kita bertindak dan berpikir dinamis dan juga fleksibel, maka kita akan lebih tahan dalam menghadapi tantangan dan perubahan serta masalah yang datang.

2. Berpikirlah bahwa inilah yang terbaik
untuk kita…

Saat kenyataan tidak sesuai dengan impian, percayalah bahwa inilah yang terbaik untuk kita semua. Kita tidak pernah tahu skenario yang telah ditetapkan-Nya. Karena, segala sesuatu yang menurut logika kita baik, bisa jadi justru sebaliknya di mata Tuhan. Itu adalah mutlak terjadi didalam keseharian kita semua.

Berpikirlah selalu positif atas apapun yang terjadi pada diri. Jangan biarkan satu kegagalan dapat membuat kecewa, apalagi sampai frustasi dan berlarut-larut. Munculkan atau ciptakan pikiran positif bahwa ini adalah pilihan yang terbaik buat kita.

3. Tetap Siapkan mental pemenang.

Disaat kita mengalami banyak kegagalan, lebih baik instropeksi diri daripada menyalahkan takdir. Siapa tahu, kita memang belum siap jadi pemenang dan meraih kemenangan tersebut. Bisa jadi kesuksesan hanya akan membuat kita menjadi sombong, dan karena terlalu sayangnya Tuhan kepada kita, Ia tidak mau hamba-Nya berbuat dosa. Setiap kemenangan itu lebih baik dirintis dari setiap peluh keringat kita. Akan lebih baik jika kemenangan itu kita dapatkan setahap demi setahap. Slow but sure. Begitu kira-kira.

Banyak orang sukses, tapi kemudian mereka terjatuh. Ada yang bangkit lagi, ada yang tidak. Liku hidup setiap manusia memang tidak sama. Tapi ingat, kesempatan untuk menang itu selalu terbuka bagi siapa saja, tanpa terkecuali!

Rejeki dan kemenangan itu sungguh tidak terkira banyaknya dari Tuhan, masih banyak yang menggantung di langit. Sekarang tinggal bagaimana cara kita, apakah mau meraihnya? atau mengharapkan turun dengan sendirinya?

Kita semua tahu bahwa yang namanya kemenangan itu seringkali dimiliki oleh mereka yang tidak pernah berhenti berusaha!

fokus


Ingat dengan sebuah ceramah subuh yang Tinta dapat. My Beloved Dad berkata bahwa harus "Fokus." Baru sadar arti dari satu kata yang sudah lewat setengah hari ini. Entah kenapa, tiba-tiba baru terpikirkan arti dari kata tersebut.
Jujur saja, muncul setelah postingan sebelum ini keluar, dan disanalah muncul arti dari kata "Fokus" tersebut. Tidak jauh-jauh dari semua terkaan yang terpikirkan. Jadi, kata "Fokus" itu punya satu makna.
Yaitu, fokus yang dimaksud dari My Dad adalah serius untuk kuliah dan bekerja. Fokus, sebuah kata yang sebenarnya ambigu, sampai-sampai Tinta ini mengartikan bahwa Fokus tidak boleh untuk lawan jenis, apa gerangan salahnya?
Ternyata salah, wanita bukan waktunya difokuskan. Jika usia masih belum cukup. Benar saja, 10 hari lagi baru berusia 20 tahun. Ternyata umur Tinta masih 20 tahun kurang 10 hari.. Semoga sajalah, ada sesuatu yang menarik dan berguna selama usia 19 tahun ini dan pada saat genap berusia 20 tahun nanti, semoga ada sesuatu hal besar yang bisa membuat semua orang bangga memiliki dan mengenal diri ini, si Tinta Putih.

*Tinta Putih

Muaro Padang yang menyimpan kenangan....

*sebelumnya maaf, tapi foto yang ada disini berasal dari laptop setelah
membuka file-file yang hidden dan me-restore semua ini recyle bin. Uniknya disini, Tinta Putih punya sedikit cerita tentang foto-foto itu, begini ceritanya.

Sore yang tenang, kalau tidak salah hari itu adalah Rabu, ketika itu sebenarnya ada kuliah yang sudah lupa, dan saat itu, gadis yang didalam foto ngajak jalan. Awalnya ragu antara memilih kuliah dengan tawaran jalan dari dia.
Setelah berpikir panjang, dan memutuskan untuk pergi jalan dengan dia naik motor Supra BA 3340 A. Dimulai dari komplek Gubernuran, Tapakis No. 12 menuju kearah Air Tawar barat di jalan Gajah V. Tujuannya adalah menjemput yang ada difoto ini.
Setelah bertemu, ia mengunakan baju berwarna orange dan jilbab seperti biasanya. Sementara Tinta Putih hanya mengunakan celana jeans plus kemeja hitam.
Setelah sekian lama mutar-mutar kota Bingkuang ini, kami melintasi jalan Nipah, tepatnya didepan kantor PU yang roboh akibat gempa yang melanda kota ini.

"Di, kita duduk disana yuk..!!"ajak dia.
"Boleh juga, yank." jawabku.

Akhirnya kami duduk disana, awalnya Tinta Putih tidak tahu alasannya tepatnya dia meminta untuk duduk disana, dan teryata, dia sedang punya banyak masalah dirumahnya, padahal dia hanya sekali 6 bulan pulang ke Padang, malah harus menghadapi masalah.
Benar, dia curhat sampai menangis disana, dia tertunduk dan merenung sesaat. Entah apa yang dia pikirkan, tapi sejurus kemudian, ia meraih tangan Tinta Putih, dan mengambil cincin yang melingkar dijari.

"Aku yang pake ya, Di."tuturnya dengan senyum.
"Boleh, pake aja, asal dijaga ya." Jawabku tenang karena dia sudah tenang.

Aku sadar bahwa masalah yang ia hadapi waktu itu sungguh berat, mana ada yang mau seorang adik membiarkan kakak kandungnya mengidap sebuah penyakit.

Semoga saja, ia tetap tersenyum seperti waktu mengambil cincin dijari ini, dan semua akan baik-baik saja. (Tinta Putih)

Tinta Putih vs Tinta Emas

Sejauh mata memandang samudra, kala itu "kencan" di panorama gunung padang. Tepatnya di Taman Siti Nurbaya. Tapi, awalnya hanya jalan-jalan di kebun teh kawasan Solok. Dan dilanjutkan ke tempat yang fenomenal ini.
Entah mengapa, setelah terjadi peristiwa tersebut, kami mengulang lagi di sini. Taman Siti Nurbaya. Bisa jadi ini sebuah kesengajaan, awalnya hanya ingin berfoto-foto ria saja disini, tapi entah setan apa yang sedang bersama kami, terjadi lagi peristiwa itu.
Tinta putih vs Tinta Emas. Begitulah yang terjadi sekiranya. hampir genap 4 tahun lama menjalin kasih, baru ditahun-tahun terakhir ini lah peristiwa-peristiwa yang seharusnya tidak terjadi ini muncul dan kami lakukan. Entah kenapa harus dituliskan didalam blog ini, takut rasanya kalau saja timbul persepsi bahwa si- Tinta Putih adalah orang yang jahat dan tidak pernah menghargai seorang wanita.

Maaf, bukan itu maksudnya, wanita memang harus dijaga, harus dikasihi, tapi sejujurnya, hal-hal dan peristiwa yang telah terjadi itu bukan kehendak hati dari si-Tinta Putih sendiri. (Maaf) Peristiwa itu terjadi karena dia yang inginkan.
"Kalau memang ku salah, tolong maafkanlah." Tutur si- Tinta Putih kepada penulis.
Hari demi hari berlalu, ia menuturkan kalau perasaannya tidak berubah, tapi pertengahan bulan Desember 2010 ia telah memutuskan hubungan yang telah dibina sejak hampir 4 tahun belakangan ini. Memang, jarak yang memisahkan mereka terbilang cukup jauh, Ibu Kota dan Nagari Minang.

Satu pesan saja buat si- Tinta Putih, "hidup ini indah kalau kita pandai mengakalinya, masih banyak teman yang akan menjadi tempat tertawa." salam hangat untuk kalian semua. (Tinta Putih)

Senin, 23 Mei 2011

Menjajal Pantai Aia Manih


Cuaca yang cerah adalah awal perjalanan menuju pantai Air Manis di daerah selatan kota Padang. Persiapan yang matang dengan bekal yang cukup, perjalanan dimulai dari pusat kota. Jarak tempuh yang cukup terjangkau, lebih kurang 1 jam saja untuk mencapai salah satu situs cerita legenda, Batu Malin Kundang.
Selama perjalanan kita akan disunguhi pemandangan yang asri, belum terlalu dijamah oleh manusia. Kondisi jalan yang cukup menantang, sudah pasti membuat para traveler tertantang dan ingin mencapai objek wisata yang satu ini.
Pantai Aia Manih. Dengan gelombang yang sangat bersahabat ini membuat tidak hanya wisatawan local yang sering mengunjungi tapi ada juga wisatawan asing yang menikmati wisata air yang satu ini. Lebih banyak dari mereka yang ingin berselancar disini.
Kehadiran batu Malin Kundang yang melegenda juga menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan tersebut. Kunjungan tidak hanya datang dari orang-orang biasa saja, sebut saja televisi swasta yang sudah pernah meliput secara langsung peninggalan tersebut.
Pantai Aia manih yang terkenal didepannya terdapat sebuah pulau yang bisa dijangkau dengan berjalan kaki saja, menyebrang lautan yang dangkal, jika beruntung, saat pasang surut kita bisa menjangkau pulau pisang yang menawan.
“Serasa di pulau Bali jika disini.” Ungkap Fuji saat berkunjung kesana. Pantai yang terjaga kebersihannya tidak lepas dari partisipasi warga setempat yang turut antusias melestarikan lingkungan pantai ini. Menjajal pulau pisang cukup mudah, tantangnya hanya bukik yang ada ditengah pulau itu.


Sayang sekali, letak pulau yang sulit terpantau menjadikannya tempat yang indah itu kurang terawat dari kebersihan. Cukup banyak sampah yang berserakan disana. Memang butuh tangan handal untuk lebih mempatenkan lokasi wisata yang ada.
Profit yang didapat lumayan banyak nantinya, uang masuk saja cukup murah, satu motor Rp. 7000 untuk kawasan wisata ini. Semoga saja ada perhatian lebih dar pihak terkait terhadap objek wisata yang satu ini.(Tinta Putih)

Jumat, 20 Mei 2011

Rencana Liputan Andalas Perspektif


kawan-kawan.
berikut daftar tugas liputan Andalas Perspektif untuk terbit perdana...

Sabtu, 21 Mei 2011
jumlah halaman : 80 halaman
semi colour
1.      laporan Utama
·         SNMPTN                    : eeph dan dori
sejarah, latar belakang, tujuan, keputusan rector, interview Bimbel, calon mahasiswa (5ce 5co), pengawas
·         CAFTA                                   : wiwi, iim, hadi

2.      laporan khusus
·         terorisme                     : hendro
·         eksistensi budaya        : iim
·         tokoh                           : yuni dan fifi
·         investasi                      : ami

3.      ragam
·         pesiar                           : -
·         humaniora                   : fadila
·         IPTEK                         : rini dan dhian
·         ekonomi Syariah         : ami
·         kesehatan                    : venti
·         now weekend              : afifi
·         entrepreneur                : harly
·         lingkungan                  : meirin
·         hukum                         : abdi

4.      pernak pernik
·         info saham                 : icha
·         hiburan                       : aulia dan dini
·         olahraga                     : farid
·         tips                             : mira
·         lifestyle                      : ali
·         event                          : harly
·         film                            : redaktur
·         seni                            : redaktur
·         jeda                            : redaktur
nb:   
a)      foto                 : 1200x1600
b)      tulisan
·         min 3 halaman word
·         size 12
·         TNR
·         space : 1,5
·         A4
c)      deadline 31 Mei 2011


Senin, 16 Mei 2011

Kenangan Tinggal Kenangan

Malam tadi, kembali begadang dengan salah seorang teman. Dia adalah orang yang tahu dengan kehidupan, walaupun banyak pahit dari pada manis yang ia rasakan, tapi sangat bagus untuk disimak.
Saat itu juga, penulis mengatakan kalau masih terbayang dengan kenangan-kenangan masa lalu. Memang sangat indah untuk dilupakan, tapi karena itu juga semua hal atau pergerakan yang dilakukan kepada lawan jenis menjadi terhambat.
Untuk mencintai seseorang memang sangat sulit, tapi ketika sudah datang rasa itu, tiba-tiba saja hilang memudar karena kenangan-kenangan tersebut.
Sulit memang untk mengatakan kepada semua orang, hanya beberapa forum saja yang bisa mengerti tentang perasaan ini. Satu kalimat yang penting diingat dari dia, "Kenangan itu adalah foto yang hanya kita pajang, tidak untuk dibawa-bawa." (Tinta Putih)

Jumat, 13 Mei 2011

Merancang Konsep

Ternyata merangcang sebuah konsep dalam keredaksian tidak mudah. Apa lagi dengan sumber daya manusia yang masih kurang profesional. Disini sangat butuh peran pembantu, sebagai tempat mengadu untuk berkonsultasi.
Untunglah, banyak tempat untuk bertanya. Saat ini kiranya sedang melakukan penentuan Editorial Mix dan Rencana liputan yang tidak kunjung kelar masalahnya. Butuh waktu sehari untuk mendapatkan semua inspirasi positif dan menyelesaikan semua hal yang tengah berantakkan tersebut.
Semoga, hari ini, setelah bermain futsall di lapangan GP Gunung Panggilun Padang, dan berangkat menuju kota kelahiran, Solok, 14 Mei 2011 ini bisa menyelesaikannya. Nanti, setelah sampai dikota kelahiran, duduk dikursi "lapau" dengan modem yang "suak" loadingnya, kita harus menyelesaikan tugas ini.
Rapat hari selasa, ketika libur Waisak harus bisa terlaksana dengan lancar, sesuai dengan target waktu yang telah ditentukan. (Tinta Putih)

Selasa, 10 Mei 2011

Kisah Perawan Tua

Apa yang akan terpikir jika saat ini dikesunyian dan pikiran yang melayang. Hahaha, secara harfiah, pasti yang terpikir adalah "pangana" kumuh untuk mencari pergaulan dengan wanita atau laki-laki sebagai pasangan. Jauh dari itu, kadang-kadang ada yang berpikir tentang agama, itupun satu-satu orang. Kalau ada.
Saat bosan menunggu seseorang diperpustakaan kampus yang sangat sunyi. Seorang anak muda tengah memperhatikan seorang wanita, jika dilihat dari raut wajahnya sangat menawan, tapi ternyata lebih menawan jika dipandang dari dekat.


Kata teman saya sesama bloger, Rahkmat, kalau keadaan seperti itu, pasti sungguh susah untuk memilih, kalau ada jadwal kuliah, bisa jadi lebih memilih Titip Absen dan memperhatikan lebih lama lagi wanita yang menjadi sorotan mata laki-laki tersebut.

Alih-alih berpikir kumuh, lebih baik penulis menuturkannya didalam blog ini, secara naluri sekarang keadaan telah ramai, ada beberapa junior, sayangnya mereka semua perempuan yang tengah mengerjakan tugas kuliah Ekonomi Makro.

Balik memperhatikan seorang perawan yang berada diujung sana. Kalaulah teman saya itu ada, pasti dia akan berkomentar seperti ini, grrr...

Maksudnya pasti juga bernafsu dengan cewek itu, untung saja dia tidak ada. Jika diberi gambarannya adalah, lebih indah memandang seorang perenang dari pada memandang seonggok daging yang nyaris memperlihatkan seluruh lekuk tubuhnya itu, kalau imam ini goyah, pasti terkena dia.

Setelah beberapa saat duduk disini, ternyata melihat dia langsung dari depan, full face, ternyata dia sudah agak berumur. Dan seketika itu juga, muncul seorang teman yang dikenal dari sebuah situs jejaring sosial, diapun mengurai kata,"ketua, cewek yang diujung itu bisa dipake, kalau mau calling aja, tapi hebatnya, dia setiap main selalu perawan, alias perawan tua terus, ketua." tuturnya mencerca dan berlalu. (Tinta Putih)

Malam Dingin di Serambi Mekkah


Perjalanan ini memang sebuah pengalaman yang menakjubkan, dan tulisan ini ditulis saat malam diberanda hotel Bungalau, Padang Panjang. 

Sekitar pukul 10 malam, embun telah berhasil turun dari gunung menuju kota dingin, Padang Panjang. “embun turun bersama hujan biasanya, tapi malam ini tidak ada hujan, mereka datang sendiri.” Tutur teman seminum kopi malam itu.
Awalnya akan bermalam di Bukittinggi, karena long weekend yang menyebabkan semua penginapan penuh, jangankan itu, tempat parkirpun sudah tidak ada sisa lagi. Hanya dapat satu malam saja, besoknya baru menuju Padang Panjang, si- kota dingin.
Di Hotel Bungalau, tepat didepan pondok pesantren Serambi Mekkah. Malam dikamar 303 lantai 3. Biayanya cukup terjangkau. Ketika baru masuk, terpikir bahwa hotel ini penuh, tapi ternyata masih ada kamar kosong yang bisa ditempati.
Satu malam, setelah masuk, bersih-bersih dan setelah makan malam, turun ke restoran hotel. Duduk bersama seorang saudara bercerita tentang “penderitaan anak pesantren.”
Benar, lihat saja dari sini, cukup jelas dan sangat kontras ketatnya peraturan yang membuat mereka telah terbiasa. Ada beberapa anak perempuan berbusana muslimah lengkap, rasanya mereka ingin keluar untuk keperluan masing-masing, tapi tampak jelas, petugas keamanan menahan laju mereka.
Malam itu, malam jumat, kami menyaksikan bagaimana kerasannya tinggal didalam sebuah asrama, pondok pesantren. Teringat masa kecil dulu, sewaktu duduk dibangku sekolah dasar, orang tua pernah berkata, “nak, bisuak kalau lah gadang, ang sikola di pesantren, indak namuah ija, payah den ma aja kalian.” Nak, kalau sudah besar nanti, kamu sekolah di pesantren, susah diajar, sudah letih kami mengajar kalian.
Kalau masa-masa itu, kami yang kecil ini memang tidak pernah ingin tinggal diasrama. Bukan karena belum pernah jauh dari orangtua, memang dasarnya kami yang tidak mau dan cukup nakal waktu usia-usia kecil.
Tetapi setelah itu, ada juga untungnya tinggal diasrama, belajar mandiri, serba sendiri, urus diri sendiri, itu juga karena diatur dengan ketatnya peraturan pesantren. Sangat banyak sisi positif yang dapat di dapat kalau anak-anak kita di sekolahkan dipesantren.
Malam yang dingin dikota Padang Panjang, kembali dihangatkan dengan teriakan seorang satpam, “manga lai? Ka makan, tunggu se didalam paga.!!!” Perintahnya dari arah restoran. Memang benar, tapi lucunya ketika itu, ada dua anak gadis yang tengah makan didalam restoran. Dua anak gadis itu tadi berasal dari pesantren yang sama. Kenapa mereka bisa keluar disaat yang lain tidak?
Setelah berbincang-bincang, mereka hanya tersenyum saja menjawab, tergantung saja. Entah apa maksud ucapan mereka, penulis juga tidak mengerti. Disaat yang sama, malam minggu juga banyak aktivitas dari anak-anak pesantren, sekitar pukul 10 malam, sekumpulan anak-anak laki-laki tengah keluar dari salah satu pintu  dengan stelan lengkap ala kiyai, bersarung dan berkopiah.
Unik saja melihat anak-anak pesantren disini. Sangat jarang ditemui dikota Padang. Anak-anak muda dengan aktivitas yang teratur, tidak melawan moral dan adat. Berpakaian sopan dan cantik. Malam yang dingin di Padang Panjang bagi mereka telah terbiasa.
Kehidupan yang seperti ini yang hendaknya ada diseluruh penjuru kota. Suasana tenang, tidak gaduh, cuaca yang bersih, bebas polusi. Kota Padang? Macet telah menjadi bagian dari kehidupan kota, belum lagi polusi udara karena asap kendaraan bermotor ditambah dengan panasnya cuaca kota Bingkuang itu.
Dingin, itulah kata yang keluar dari mulut teman ketika duduk dimalam minggu didepan restoring hotel ini. Pelayanan yang ramah, seorang pelayan yang cantik cukup menarik perhatian kami. Senyumnya khas ala anak gadis minang, anggun dan ayu, tersipu malu saat disapa.
 Anak-anak muda disini sangat tahu aturan. Weekend ini saja, tidak banyak yang lalu lalang dengan kendaraan bermotor, tidak ada bising knalpot, tidak ada gumpalan asap yang mengotori udara. “Ada komunitas motor, tapi mereka lebih banyak keluar kota, dari pada mengotori udara disini, mending keluar kota dan bertemu teman baru dan lebih banyak teman lebih asyik.” Tutur salah seorang pemuda, Budi, malam itu.
Dinginnya malam kota Padang Panjang akan menjadi kenangan bagi siapa yang baru bermalam dan datang kesini. Jangan khawatir dengan tempat penginapan, banyak hotel-hotel murah dengan pelayanan yang memuaskan tersebar di kota Padang Panjang.
Setelah malam itu berakhir, perjalanan kembali diarahkan kekota Padang, rutinitas dan kesibukan sehari-hari telah menanti dihari kerja. (Tinta Putih)

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes