Coretan Putih diatas Hitam...

Welcome to my site.


Minggu, 09 Oktober 2011

Failed and Failing Cultures

Berbicara tentang budaya, apa lagi tentang budaya perusahaan, tidak lepas dari yang namanya bisnis dan persaingan. Tidak hanya itu saja, ketika kita mempelajari budaya perusahaan dalam penjurusan Sumber Daya Manusia memang sangat komplek kalau budaya perusahaan dikuasai dengan seksama.

Mengapa demikian? Tentulah faktor-faktor yang menjadi tolak ukur hal tersebut menjadi hal yang komplek untuk dipahami. Salah satunya adalah, kita sebagai mahasiswa manajemen adalah calon seorang manajer dan harus menjadi pemimpin dan memimpin v suatu kelompok, sekecil apapun kelompok itu, se-formal apapun kelompok itu tentulah mereka memiliki budaya yang akan mereka gunakan untuk menjalani rutinitas kelompok tersebut, begitu juga dengan perusahaan yang profit oriented.

Kembali kita review sedikit tentang apa itu budaya dan apa pula yang dikatakan budaya perusahaan. Sejatinya kita telah tahu arti dari budaya. Budaya adalah suatu rutinitas yang berulang-ulang dilakukan dan memiliki nilai dan system makna bersama. Sedangkan budaya perusahaan adalah suatu system bersama yang dianut oleh anggota-anggota suatu kelompok dan dilakukan berulang-ulang sehingga menjadi suatu pembeda antara satu kelompok dengan kelompok lainnya.

Budaya perusahaan yang dianut oleh salah satu perusahaan tentulah memiliki kelemahan sehingga menyebabkan gagal dan berdampak buruk terhadap perusahaan itu sendiri. Bagaimana tidak, efek yang akan ditanggung cukup besar, terutama sekali semakin meningkatnya tingkat keluar masuknya karyawan sebuah perusahaan.

“Failed and Failing Cultures.” Jika diartikan kedalam bahasa kita, kalimat itu memiliki arti, “kegagalan dan yang menggagalkan budaya.”
Pada dasarnya, budaya yang gagal bukan semata karena mereka tidak mampu “mengelola” budaya perusahaan mereka sendiri, pada kesempatan ini tidak hanya ditujukan kepada manajer yang lemah dari berbagai sisi. Tapi juga karena digagalkan oleh pihak-pihak tertentu.

Coba kita perhatikan keadaan Negara kita, bagaimana proses sebuah perusahaan berjalan dalam rutinitas hariannya. Apakah ada yang menganjal sekiranya? Atau ada sesuatu hal yang menarik untuk kita simak?

Cukup banyak perusahaan yang menjadi korban “digagalkannya” budaya perusahaan itu sendiri, khusus dikota Padang ini. Salah satu contohnya adalah sekitar tahun 2007 silam. Sebuah perusahaan yang telah berhasil mengaet Bank Swiss untuk menanamkan “mata uangnya” di ranah minang, tapi apa yang didapat? Ada beberapa pihak yang malah mempermainkan MoU yang telah disetujui, sungguh sangat disayangkan. Andai saja perusahaan ini memiliki budaya yang lebih kuat jika dibandingkan dengan pihak-pihak yang menolak tersebut, pastilah kota ini telah menjadi kota metropolitan. Bisa kalah Jakarta, Bandung, Medan, dan yang lainnya.

Tidak hanya sampai disana, perusahaan tersebut “diperas” terlebih dahulu oleh pihak dewan terhormat dan menjanjikan lancarnya proyek investasi untuk pengembangan wilayah Terminal Regional Bingkuang tersebut, coba bayangkan, satu kepala dibayar 50 juta dan dikali berapa banyak anggota “terhormat” yang ada. Ironis memang, tapi itulah negeri yang kita tempati ini, budaya perusahaan yang sebenarnya bisa dikatakan lumayan kuat, tapi bisa digagalkan dengan budaya-budaya hitam orang-orang hitam negeri ini.
HIRARKI BUDAYA BISNIS

Hirarkie bisnis digunakan sebagai subjek budaya perusahaan dan meletakkannya ke dalam konteks bisnis untuk klien perusahaan. Lantas apa pula yang menjadi hirarki budaya bisnis itu sendiri; didalam bukunya, Jerome Want, Ed.D menjelaskan bahwa ada 4 tujuan dari hirarki budaya bisnis itu sendiri:
a. Membuat budaya itu nyata.
b. Membedakan antara budaya perusahaan dan budaya industry.
c. menghubungkan subjek kebudayaan perusahaan dengan pekerjaan itu sendiri.
d. untuk membuat sambungan langsung antara budaya bisnis dan kinerja bisnis.
Terdapat tujuh jenis budaya di dunia bisnis yang masing-masing memiliki karakteristik yang ditetapkan dari kualitas yang kinerjanya tidak begitu baik hingga yang terbaik, yaitu :
1. Predator (buas/ganas)
2. Beku
3. Chaos (kacau)
4. Political
5. Birokrasi
6. Layanan
7. New age (umur baru)

Lima dari jenis pertama dikategorikan dapat disebut sebagai budaya yang kinerjanya tidak baik/budaya yang gagal. Budaya ini disebut juga “culture shameless” karena tidak ada yang menunjang budaya bisnis dan juga jarang memenuhi harapan dari siapapun.
Dalam bab ini, ada 5 jenis budaya dan akan kita bahas satu persatu dengan beragam contoh yang relevan sehingga kita dapat mengartikan satu demi satu jenis-jenis budaya tersebut. Jenis-jenis budaya itu ialah :

-Budaya Predator

Dengan bahasa saja kita bisa tahu apa itu budaya predator. Benar, budaya predator adalah budaya buruk yang menjadi sorotan media dalam beberapa tahun belakangan ini. Dimulai dari laporan keuangan palsu yang diedarkan, penipuan konsumen dan investor, bahkan perusakan lingkungan yang semestinya dijaga.

Pada dasarnya perusahaan yang menggunakan budaya ini tetap memiliki sebuah aturan, prinsip-prinsip seperti layaknya budaya itu sendiri. Mereka tetap melakukan upacara-upacara umum dan ritual-ritual perusahaan, kalaupun ada pernyataan resmi dari perusahaan, kebanyakan itu adalah bohong dan pendustaan publik.
Hal ini tidak akan menyebabkan kepuasan pelanggan ataupun komitmen dari karyawan perusahaan itu sendiri, lebih ekstrim adalah budaya predator ini sangat minim kepercayaan dari investor yang menyebabkan pihak manajemen berputar akal untuk mencari investor yang memiliki satu pikiran dengan mereka, yaitu mencari investor yang juga berpegang pada budaya predator. Hal ini juga menjadikan komunikasi dalam budaya ini tertutup, diam-diam dan “top – down”.
Belum lama ini, sebuah organisasi muncul dengan berkedok Negara Islam Indonesia. Praktek yang mereka lakukan adalah layaknya sebuah perusahaan yang sangat terorganisasi. Tapi ini bisa dikategorikan sebagai perusahaan yang memiliki budaya predator. Sedikit banyaknya, coba pikirkan sejenak.

NII dengan proses rekruitmen anggota yang telah mengadopsi system penipuan dan mencuci otak (pemaksaan) dan memberikan pelatihan kepada “karyawan-karyawan” mereka bagaimana cara mengumpulkan uang, mulai dari cara kasar, berbohong, hingga penipuan yang dilakukan. Manajer dari NII memang sepaham dengan konsep Budaya Predator yang sejatinya ingin sekehendak hatinya saja.


-Budaya Frozen
Budaya yang satu ini memiliki sikap takut mengambil resiko dan tidak mau berinovasi terhadap produksi perusahaan, ketakutan ini dialami oleh pihak manajemen. Mereka lebih sering mengunakan ide-ide lama, tidak ada penyegaran dalam ide-ide yang seharusnya mampu berinovasi, imbasnya pun karyawan yang lebih sering berjalan diluar garis komando yang telah ditetapkan tidak ada tolerir untuk itu. Artinya hukuman atau sanksi bisa didapat oleh karyawan yang mencoba untuk kreatif.

Budaya Beku memiliki misi dan strategi yang usang dan sering strategi tersebut tidak ada atau tidak berhubungan dengan perubahan pasar. Kepemimpinan biasanya otoriter (tidak berwibawa) dan harus menjadi sumber dari semua keputusan. Hasilnya adalah bahwa manajemen bekerja dengan penutup mata, memiliki sumber-sumber lain termasuk informasi dan wawasan yang mungkin bisa membantu mengangkat perusahaan.

Perusahaan yang mengunakan konsep ini biasanya tidak akan bertahan lama, secara teori, karyawan yang telah merasakan bahwa ada nilai-nilai yang bagi mereka secara pribadi tidak cocok dan karyawan dengan sendirinya akan lebih cepat meminta pemecatan daripada kenaikan gaji.

Memang tidak begitu banyak perusahaan yang menggunakan budaya semacam ini. Pada dasarnya, manajer-manajer yang menerapkan system makna bersama seperti ini bisa dijumpai pada perusahaan-perusahaan yang berbasis terhadap industry.








-Budaya Kacau

Jenis budaya ini jelas sekali tidak harus dipertahankan, budaya kacau, tapi budaya ini lebih bagus jika dibandingkan dengan budaya beku. Karyawan pada dasarnya dapat menerima budaya kacau pada perusahaan tempat mereka bekerja karena mereka lebih produktif dan konsisten jika tidak berkinerja lemah.
Budaya kacau terfragmentasi dan tidak fokus. Mereka jarang memiliki misi yang terfokus atau strategi yang dapat berkelanjutan di pasar. Wajar saja jika banyak rencana bisnis yang gagal, kegagalan berasal dari kepemimpinan yang tidak tegas, kurang konsisten, dan tidak efektif. Sebagai hasilnya, perusahaan-perusahaan dengan budaya ini harus bekerja keras menanggapi persaingan secara berkelanjutan dan koheren.
Hal ini juga membuat banyak pihak rugi, salah satunya adalah stakeholder. Kacau tidak akan dapat diduga sebelumnya, manajemen enggan untuk berkomitmen jangka panjang sehingga keluar masuknya karyawan kerap terjadi. Hal ini memicu terjadinya perombakan struktur organisasi dan proses restrukturisasi bukanlah jalan keluar yang terbaik untuk mengatasi masalah.

-Budaya Politik

Sebuah perusahaan dengan campur tangan politik akan menyulitkan pergerakan perusahaan dalam segala hal. Sejatinya politik dan perusahaan berbeda jalan, mereka memiliki jalan-jalan tersendiri sehingga tidak dapat disatukan kedalam budaya.
Dalam bukunya, Jerome Want mengatakan bahwa keadaan memang bisa diuntungkan karena pengaruh politik, tapi karyawan akan tahu bahwa permainan politik akan berimbas pada mereka sendiri, sehingga sangat memengaruhi perusahaan.
Dikota ini, masih jelas teringat bahwa betapa besarnya pengaruh budaya perusahaan yang diusik oleh politik. Perusahaan yang juga dipimpin oleh seorang politikus dan harus berlawanan dengan politik itu sendiri. Basko media group yang menerbitkan kembali Haluan dengan beberapa wartawan yang cukup idealis dalam penulisan berita.
Tiba saatnya seorang wartawan harus menulis sebuah berita yang sesuai dengan fakta dan data-data yang akurat, tapi si wartawan harus dipecat karena beritanya tersebut menyangkut masalah politik. Sehingga perusahaan media didoktrin oleh politikus kota sehingga sang wartawan itu dipecat.
Disini terlihat jelas bahwa antara politik dan budaya memang sangat sulit untuk dipilih. Budaya politik memang tidak akan pernah hilang dalam peredarannya, bagaimanapun juga budaya politik akan menjadi suatu pemecah nantinya bagi perusahaan itu sendiri. Pemimpin yang kuat dapat memfokuskan visi dan misi perusahaan untuk mengatasi budaya politik yang berlebihan tersebut.
Balik kedalam masalah sebelum ini, jika pimpinan Haluan kuat dalam pendiriannya, maka ia tidak perlu memecat salah seorang jurnalisnya dan didoktrin oleh politik yang ia bangun bersama. Pimpinan hanya perlu tegas dan kuat dalam menjalankan visi dan misinya sehingga tidak ada yang dirugi.
Ketika seorang karyawan tidak menunjukkan kesetiaan yang cukup untuk bos. Tidak mengherankan, perusahaan dengan budaya politik akan sangat bercabang. Hal ini pada gilirannya berdampak negatif terhadap operasi dan layanan dukungan administratif.
Sebagai hasilnya, perusahaan tidak konsisten karena memiliki kesulitan menjaga “politik-nya” dari pemasok atau pelanggan.

- Budaya Birokrasi
Budaya birokrasi di indonesia memang patut diacungi jempol menghadap ke bawah. Bagaimana tidak? Hal ini dikarenakan banyaknya elemen-elemen yang mengeluh terhadap sistem pelayanan birokrasi yang ada. Dimana banyak sekali masyarakat umum, khususnya mahasiswa yang mengatakan “birokrasi yang melempen.”
Birokrasi itu memiliki arti sebagai suatu organisasi yang memiliki rantai komando dengan bentuk piramida, dimana lebih banyak orang yang ditingkat bawah dari pada tingkat atas, biasanya ditemui pada instansi yang bersifat administrasi maupun militer.

Pada rantai komando ini setiap posisi serta tanggung jawab kerjanya dideskripsikan dengan jelas dalam organisasi. Organisasi ini pun memiliki aturan dan prosedur ketat sehingga cendrung kurang fleksibel. Ciri-ciri lain adalah biasanya terdapat formulir yang harus dilengkapi dan pendelegasian wewenang harus dilakukan sesuai dengan hirarki kekuasan.
Sementara itu, didalam kamus besar bahasa indonesia, Birokrasi diartikan sebagai sistem pemerintah yang dijalankan oleh pegawai pemerintahan karena telah berpegang pada hirarki dan jenjang jabatan. Cara bekerja atau susunan pekerjaan yang serba lamban, serta menurut tata aturan yang banyak liku-likunya. Sekarang ini birokrasi banyak dikuasai oleh pegawai dan banyak yang tidak setuju dengan sistem pemerintahan yang satu ini.
Bicara birokrasi atau budaya birokrasi, ada karakteristik dari budaya birokrasi yang harus disimak dengan baik. Seperti, memiliki akuntabilitas dan kinerja yang rendah, cendrung mengunakan gaya hirarki yang kaku dan strukur organisasi yang rumit, dan sering terjadi penundaan pekerjaan didalam keseharian.
Perusahaan yang mengunakan budaya birokrasi ini sepertinya jarang mendapatkan mitra bisnis. Berpikirlah sejenak, jika suatu perusahaan menerapkan budaya birokrasi dan datang salah seorang yang ingin bermitra kepada perusahaan, tapi telah berhadapan dengan rumitnya birokrasi yang harus diopor-opor dalam pengurusan ini itu dan segala macam.
Sungguh disayangkan jika ada perusahaan yang menggunakan budaya birokrasi ini pada perusahaan mereka. Akan menjadi obrolan busuk ditengah kolega-kolega bisnis nantinya. Sebagai contoh saja, pengalaman pribadi ketika mengantarkan surat-surat penting ke Kalimantan, pada perusahaan tambang, biasanya untuk mengantarkan surat hanya perlu masuk kedalam, melalui pintu masuk, menghadap salah seorang pegawai di meja resepsionis, tapi apa yang didapat, mereka menyuruh untuk antarkan sendiri ke lantai 4, tapi setelah sampai disana, diopor lagi ke lantai 2, barulah sadar bahwa telah dipermainkan oleh birokrasi perusahaan.
Beberapa factor yang memberikan kontribusi terhadap peningkatan birokrasi perusahaan, adalah :
1. Peraturan
Bisnis Amerika telah menyetujui peraturan-peraturan dari hukum seperti istirahat kita, seringkali semua peraturan dan hukum itu dibuat dan ditanggapi untuk menghukum perbuatan jahat. Sebagai sebuah hasil perusahaan-perusahaan telah membuat struktur birokrasi yang bisa memberi tanggapan terhadap semua peraturan-peraturan dalam kepentingan perusahaan.

2. Penggabungan
Seperti organisasi bisnis besar yang kita buat melalui penggabungan, kita menciptakan birokrasi besar, ketika karyawan berhenti membangun sebuah penggabungan sesuatu yang besar. Organisasi yang lebih kompleks masih menciptakan birokrasi menjadi sebuah mekanisme untuk mengatur bahkan organisasi besar.

3. Kontrol
Ketakutan manajemen tentang kehilangan kontrol merupakan sebuah contributor yang besar untuk membangun dan memelihara birokrasi sebagai hasilnya. Keputusan yang dibuat merupakan kontrol dan pusat yang sangat besar.

4. Teknologi
Komputer dan sistem komunikasi yang baru pernah dipuji sebagai maksud menurunkan birokrasi dan menciptakan efisiensi yang terbesar, kita semua tahu apa yang terjadi ketika sistem menghilang IT departemen menjadi perancang dari birokrasi perusahaan.

5. Departemen yang legal/sah
Departemen yang legal diciptakan dengan tujuan yang asli menjaga secara aktif perusahaan yang keluar dari masalah. Bagaimanapun juga, maksud dari operasi normal adalah lambat dan menghalangi sebagaimana pengacara yang konsultasi.

6. Menghindari kesalahan :
Perlindungan untuk hukum departemen yang legal, sebagaimana meningkatkan keengganan untuk mengambil resiko dan membuat kesalahan-kesalahan. Perusahaan-perusahaan telah menciptakan mekanisme untuk menghindari & memperbaiki kesalahan-kesalahan.

7. Hukum kepemimpinan
Perusahaan-perusahaan dengan budaya-budaya birokrasi biasanya mendewasakan waktu dan pertumbuhan juga ikut serta untuk mengangkat birokrasi. Perusahaan-perusahaan dengan budaya birokrasi melakukan perkembangan yang baik. Misi formal dan perencanaan bisnis tapi mereka sukses melaksanakannya. Komitmen karyawan biasanya pertama secara langsung untuk sebuah fungsi atau departemen lebih besar dari pada perusahaan. Masyarakat dengan birokrasinya mempunyai sebuah rasa pengurangan yang mendesak, jika masyarakat dengan birokrasinya dipaksa untuk lebih responsive. Mereka mengambil karakteristik dan sebuah budaya yang buas/jahat dan membalas dendam, khususnya melawan semua yang mengkritik birokrasi. Bangunan tim dibatasi dengan struktur, hierarki dan peraturan-peraturan.
Budaya birokrasi lebih dikenal untuk hierarki yang kaku dan struktur yang berbelit-belit yang bergiliran hanya terhadap pecahan & menunda pekerjaan serta kerjasama karyawan yang efektif karena perusahaan-perusahaan sangat fokus dengan budaya birokrasinya. Mereka mencegah dari respon yang cepat & efektif terhadap krisis/perubahan dalam kompetisi lingkungan luar, masyarakat yang berhubungan dengan budaya birokrasi, komplen terhadap kekurangan kompetisi & motivasi karyawan.

Kesimpulan
Budaya perusahaan tidak selalu berada pada posisi yang kuat dan juga tidak selalu berada pada posisi yang lemah. Hal ini berkaitan dengan adanya beberapa jenis budaya yang menjadi penghalang bagi kinerja perusahaan. Seperti budaya predator dengan keganasannya menghadapi kolega kerja. Budaya beku dengan ketakutannya mengambil resiko dan jarang sekali berinovasi terhadap perusahaan. Lalu, budaya politik yang sangat keras untuk menghalangi budaya perusahaan masuk dalam percaturan dunia bisnis, peran serta dari budaya politik sebenarnya tidak diharapkan oleh perusahaan, tapi ada kalanya budaya politik digunakan untuk mencapai target dan maksud dari perusahaan itu sendiri. Sementara itu budaya kacau yang selalu tidak mampu bersaing dan terakhir adalah budaya birokrasi yang tidak diharapkan kehadirannya oleh banyak pihak.

3 komentar:

dunia kecil indi mengatakan...

ini untuk tugas kuliah atau? nice post, btw, jarang2 aku lihat ada post yg 'serius' kaya gini ;)

Tinta Putih mengatakan...

yap, indi bener, ini tugas kuliah, refensinya dari buku jerome wan... sayang aja rasanya, waktu abdi buat tugas ini, susah banged dapatin jurnal atau referensi lain... jadi postingan ini buat bantu teman2 yang juga ngambil matakuliah BUDAYA PERUSAHAAN di Jurusan Manajemen...

:) Indi, g nyangka aja di komen sama salah satu novelis cantik yang pernah abdi kagumi...

Btw, kapan novel ketiganya nih??? udah ada atau belum? atau abdi yang g tau infonya??? kalo belum, buruan ya..!!

ClickME mengatakan...

gan dapat referensi di mana klo boleh tau ?

Posting Komentar

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes