Coretan Putih diatas Hitam...

Welcome to my site.


Rabu, 12 Oktober 2011

sahabat, ini adalah kita


Tercatat sebagai mahasiswa tahun 3 dengan hobi memainkan rubik dengan rekor dibawah 1 menit. Tapi, itu dulu, sekarang tidak begitu lincah lagi karena sangat jarang ia memainkan rubik. Kesibukan baru juga telah ia dapat, setelah memiliki seorang teman yang sebenarnya telah ia kenal sejak SMP dulu.
Namanya Rahmat, dialah yang memiliki rumah di kawasan Gunung Pangilun. Rumahnya kami jadikan tempat kumpul-kumpul kala waktu senggang dari rutinitas kuliah. Tapi, hanya lantai duanya saja yang kami jadikan basecamp.
Lantai satu secara otomatis tidak bisa, karena merupakan ruang keluarga. Rumahnya cukup besar, senada dengan badannya yang super besar diantara kami.
Rahmat memiliki hobi menulis, menulis artikel-artikel, puisi, syair, dan semuanya ia post didalam sebuah blog pribadi. Bisa jadi tulisan tersebut merupakan luapan perasaan seorang anak muda. Tapi secara isi dan gaya penulisan cukup tajam jika disandingkan dengan penulis-penulis pemula.
Sebelum bulan puasa, kami mengadakan jalan-jalaan ke Bukittinggi, Rahmat yang menjadi motor acara kali ini. Lucu, setelah pulang dari sana, ia kembali mengajak kami untuk mengunjungi salah satu objek wisata, Pagaruyuang.

Katanya dari kecil belum pernah melihat langsung Istana Pagaruyuang itu. Lalu, ketika kami sedang kumpul-kumpul membahas kuliah, salah seorang teman yang bernama Fuji berkata, “Mat, kalo ke Pagaruyuang berarti ke Batusangkar?”
Rahmat menganggukkan kepala tanda setuju. Lalu Fuji kembali berkata, “hahahaa, berarti kita akan makan siang di rumah si Hmmm tu ya? Udah diberitahu kalo kita akan datang lebaran nanti Mat?”
Semua tertawa mendengarnya. Dari hasil ocehan kami-kami, Rahmat dinyatakan, sekali lagi, dinyatakan suka kepada salah seorang gadis yang berasal dari Batusangkar. Lagi-lagi, kami tertawa kalo sudah membicarakan masalah ini.
***
Hari ini kami berkumpul di koridor jurusan Manajemen Unand. “Pengumuman beasiswa.” Siapa yang mendapatkan beasiswa berhak atas nominal 4.2 juta rupiah. Dari kami, ternyata hanya Rahman Ghany lah penerima beasiswa tersebut.
Semua senang karena ini adalah pertanda baik, dulu sebelumnya kami pernah mengadakan sebuah perjanjian, jika ada salah satu dari kami yang menerima beasiswa, harus disisihkan sedikit untuk pesta taman dilantai dua tempat kami sering ngumpul.
Ternyata benar, Rahman menepati janjinya, kami mengadakan sebuah acara, dimulai pukul 9 malam hingga berakhir pada pukul 12 malam. Tidak sekadar kumpul-kumpul saja, kami mengadakan acara bakar ayam.
“Malam yang sangat panjang.” Begitu kata salah seorang dari kami. Pesta dimulai hingga semuanya berakhir dengan kesenangan. Acara ini kurang meriah karena orangtua dari Rahkmat sedang tidak dirumah, beliau pergi keluar kota untuk acara keluarga.
Rahman aslinya berasal dari Baso. Ia adalah mahasiswa PMDK yang tergolong pintar. Bahkan karena kepintarannya itu, ia selalu menjadi idola jika tugas kampus telah menanti. “Rahman, pinjam tugas donk.” Tutur teman-teman sesama mahasiswa.
Cowok yang pernah mejeng dihalaman Bintang koran lokal ini memang tidak pelit. Ia pernah menuturkan bahwa, “teman adalah keluarga bagi dirinya.” Dengan teman, ia bisa merasakan kehangatan keluarga yang jauh dikampung halaman sana. Dengan panggilan iki yang melekat, ia selalu tersenyum ceria ketika bergurau dengan teman-temannya.
****
Suatu hari ketika sedang asyik-asyiknya kumpul dengan satu topik hangat yang dibicarakan, salah seorang teman nyeletuk berkata, “emang kalian alumni SMA mana?” tuturnya yang keluar dari topik pembicaraan.
Kontan saja mata kami tertuju kepada salah seorang teman yang kerap disapa Harly. Ia merupakan lulusan dari SMA 12 Padang. Lalu, kenapa semua mata tertuju kepadanya saat pembicaraan beralih ke permasalahan SMA.
Ternyata begini, SMA 12 terletak di daerah Surau Gadang. Merupakan satu-satunya sekolah SMA yang berada didalam lokasi tersebut. Sehingga membutuhkan jasa ojek untuk menuju sekolah. Dan (maaf) setiap sore, didepan jalanan sekolah, ada saja ternak warga yang lalu lalang disana.
Mungkin ini salah satu faktor yang membuat mata kami tertuju ke dia saat bercerita tentang SMA.
Harly Satrial, juga mahasiswa satu angkatan dengan kami. Sebenarnya ia adalah blasteran Pariaman dan Jakarta. Kurang paham juga sih sebenarnya, entah dimana ia lahir dan hal itu masih menjadi misteri hingga sekarang.
Walaupun kelahirannya dipertanyakan, teman-teman dilingkungan rumahnya yang lama kerap memanggilnya dengan panggilan “Ajo.” Panggilan resmi orang Pariaman. Tapi, panggilan itu tidak berlaku bagi kami.
Harly, panggilannya bagi kami adalah EDI. Kenapa? Hahaha, permasalahan sepele, coba saja lihat rambutnya yang dan tekstur wajahnya yang hampir mirip dengan Edi Supono alias Parto.
Apalagi kalo sudah menirukan gaya dari dalang Ovj tersebut. Sungguh mirip. Pernah suatu kali, kami sedang berkumpul di rumah Rahmat, kami melihat ada setumpuk batu domino dan berniat memainkannya, hanya sekadar bermain.
Dan dipenghujung permainan, perhitungan skor menyatakan ia kalah dengan “mandannya”. Sontak saja ia bergaya seperti Parto. Dan kami semuapun terhibur dengannya yang selalu berujar sumpah serapah.
Bahkan sumpah serapah itu juga telah menjadi lambang untuk dirinya sendiri. Haahaha, entah siapa yang memulai tapi, yang jelas Harly punya panggilan yang berbeda hampir tiap hari. Itulah dia.
****
“Malam-malam kita lalui tanpa cewek sudah biasa rasanya, lalu apa kata dunia, jika kita lalui malam ini tanpa rokok.” Tutur salah seorang teman yang telah lama dikenal.

Seorang mahasiswa yang bercita-cita menjadi musisi disaat rumitnya masa perkuliahan yang dihadapinya. Dari segi kemampuan untuk bersaing dalam dunia pendidikan, dia cukup mampu menyaingi kepintaran Khalil Gibran untuk soal cinta dan syair, ia juga mampu mengalahkan semua teori Einstein.
Tapi, ia sifat malas yang ia punya cukup mampu menyaingi semua kehebatan yang ia punya. Tapi, ada satu hal yang tidak bisa dikalahkan oleh sifat malasnya itu, yaitu kelincahannya bermain alat musik, gitar.
Kami mengakui, lagu ciptaan yang ia buat untuk seorang gadis itu memang cukup menyentuh hati. Bahkan, ia mencoba membuatkan videonya memainkan sekaligus menyanyikan lagu tersebut. Bukti : search di youtube dengan keyword : untukmu cinta – Fuji Agustian.
Setiap lirik yang tulis seakan-akan mengambarkan isi hati dan perasaannya terhadap gadis tersebut. Tapi, itu lah gunanya teman. Teman telah menyadarkan dirinya bahwa wanita itu tidak pantas untuk dirinya. Ada wanita spesial yang lebih pantas untuk laki-laki seperti dia.
Dia adalah Fuji Agustian. Teman seperkuliahan yang selalu datang tiap malam selama masa ujian. “Di, tolong banged ujian ya, malam ini gw mau belajar, mohon bantuannya.” Katanya setiap datang kerumah.
Tidak masalah sebenarnya, tapi ilmu akan dipakai lama, kalau hanya dipelajari semalam saja, akan cepat hilang ilmu tersebut. Dan tidak akan tersisa. Tapi, ia tetepa berusaha untuk menjadi yang terbaik. Itulah dia, seorang Fuji yang sering disapa Kiting oleh teman-temannya.
Ia pernah berujar bahwa, “mimpi harus dikejar, sejauh apapun itu, mimpi harus diwujudkan, musisi adalah impian didalam mimpi, prosesnya sudah jelas, tamatkan kuliah ini, buat orang tua bangga, dan raih semuanya cita-cita.”
Terharu, tapi setelah ia berkata bijak seperti itu, ia menyalakan sebatang rokok dan berujar, “kalo mampu.”
Hahahaaa... Dasar Kiting.
*****
Satu lagi, mencari seorang teman tidak perlu pandang bulu, seberapa lebat bulunya itu tidak penting. Yang penting adalah kita berteman.
Farid. Berasal dari Bengkulu yang memiliki bahasa yang cukup unik. Gayanya juga nyentrik, saat kami mendaki bukit dulu, ia tak obahnya bergaya seperti beruang kutub yang akan tidur dalam badai salju selama setahun penuh. Sungguh menjadi perhatian orang-orang kala itu.
Belum lagi, saat kami menuju kota Solok lewat danau Singkarak. Tepat di depan kampus UNP, ia berteriak seperti kenek bus dan teriakannya cukup jelas didengar orang-orang yang tengah berdiri diatas trotoar.
“Palembang... Palembang... Palembang...” untung punya teman yang seperti ini cuma satu, coba kalau kami punya dua orang saja seperti ini, mungkin sudah punah kami dibuatnya.
Itu dikota Padang. Ketika kami mengunjungi kebun teh di kab. Solok. Ia berteriak keras seperti orang utan yang nyasar dan berniat mencari keluarganya yang hilang didalam rimba.
Oooiiii... ooooiiii.... ooooiiii.... tentu saja gema suaranya bersahut-sahutan, lagi-lagi mendapat perhatian dari orang-orang sekitar.
Lagi-lagi, untung cuma satu ini yang seperti ini, kalau ada dua, sudah dipastikan kami punah karenanya.
Tapi, Farid secara pribadi adalah mahasiswa yang menarik, dosen saja ia bantah, pernah ia berdebat dengan seorang dosen senior yang hampir pensiun, ia lawan. Bayangkan saja perdebatan antara Bush (mantan presiden AS) sedang berdebat dengan Osama bin laden yang sedang dicari-cari. Hahaahhaaa..
Farid adalah seorang teman yang cukup menghibur, canda tawanya selalu melonggarkan keseriusan kami disaat berkumpul. Itulah dia, Farid yang sering dipanggil Adik Kiting. Hanya karena rambutnya dengan Fuji sama-sama keriting.
****
Pernah Rahmat mendapat cercaan dari seorang mahasiswa yang kalah berdebat dalam presentasi kuliah, Kami akui, Rahmat memang benar dan mahasiswa tersebut salah.
“kalau sempat bertinju, hahaha, Ali saja yang maju, anak taekondow.” Kata kami bersama menunjuk ke arah seorang pemuda yang tegap berkulit hitam.
Kenapa hitam? Baca aja twit dan wall dari ceweknya. “hai Item.” “Item, Taraweh.” Begitulah kira-kira. Namanya Ali Nafiah.
Tidak banyak hal tentang Item yang satu ini. Yang pasti dia dan kami adalah teman yang sering berkumpul untuk membicarakan tentang hewan perliharaan. Bagi Ali, hewan yang ia pelihara telah ditentukan umurnya, paling tua yang ia pelihara hanya 1 minggu saja. Tapi, niatnya untuk beternak hewan seperti kelinci, marmut, hingga burung cukup kuat.
****
Sahabat, kami bertujuh dan enam nama tersebut adalah orang-orang yang cukup “gila” dalam segala hal. Saat berkumpul bersama dan membicarakan semua hal, mulai dari hal politik, bisnis terbaru, hukum, budaya, sastra, hingga masalah humaniora.
Perkumpulan ini, pertemanan ini merupakan persaudaraan yang sangat menarik, saling pengertian, setiap saat bertengkar, akur lagi. Yah, hampir miriplah dengan kakak adik yang saling bertengkar dan sebentar- sebentar damai.
Hingga persahabatan ini muncul, semuanya, Rahmat, Rahman, Harly, Fuji, Farid dan Ali. Menjadi satu kesatuan.
Suatu hari, kami muncul bersama, bukan sebagai mahasiswa lagi, bukan sebagai anak dari orangtua, tapi kami muncul sebagai kami yang telah berhasil, tanpa melupakan semua jasa orang tua, guru dan para dosen. Semoga kita sukses bersama. (*)
-seven autis

2 komentar:

dunia kecil indi mengatakan...

amen for your prayer! :)

Tinta Putih mengatakan...

amin.... thanks Indy... :)

I think, very very nice to meet you...

Posting Komentar

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes